Salah menentukan kapasitas genset bisa membuat unit cepat rusak atau boros bahan bakar. Berikut cara menghitungnya dengan benar.
Memilih kapasitas genset bukan sekadar menjumlahkan daya listrik yang terpasang. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah memilih unit terlalu kecil sehingga genset sering overload, atau terlalu besar sehingga mesin bekerja pada beban rendah terus-menerus dan menimbulkan wet stacking.
Langkah pertama adalah mendata seluruh peralatan yang akan di-backup beserta daya masing-masing. Pisahkan antara beban resistif seperti lampu dan pemanas, dengan beban induktif seperti motor listrik, kompresor, dan AC. Beban induktif membutuhkan arus start (starting current) hingga 3-6 kali arus nominal.
Setelah total beban puncak diketahui, tambahkan margin 20-30 persen sebagai cadangan pertumbuhan kebutuhan listrik dan faktor keamanan. Jika total beban puncak 80 kW dengan power factor 0,8, maka kebutuhan daya semu sekitar 100 kVA, sehingga genset 125 kVA menjadi pilihan yang aman.
Pertimbangkan juga lokasi pemasangan. Area perkantoran, rumah sakit, atau perumahan sebaiknya menggunakan unit silent type dengan kanopi peredam. Sedangkan untuk pabrik dengan ruang genset tersendiri, open type biasanya lebih ekonomis dan memudahkan perawatan.
Terakhir, siapkan panel ATS AMF agar perpindahan daya dari PLN ke genset berjalan otomatis. Tanpa panel ini, operator harus memindahkan daya secara manual yang berisiko terlambat dan mengganggu proses produksi. Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim PT. NEXT GEN LTD untuk perhitungan gratis.